Menatap Politik Indonesia: Antara Keletihan dan Harapan

Melihat kondisi perpolitikan Indonesia hari ini, aku merasa cukup jengah. Biasanya, aku memilih untuk tidak terlalu vokal dalam menyuarakan pandangan tentang politik. Pertama, karena aku merasa tidak terlalu paham dan takut terkesan sok tahu atau hanya sekadar FOMO. Kedua, karena  seringkali aku merasa bahwa kebijakan politik tidak memiliki dampak langsung pada kehidupanku; seolah-olah hidupku tetap berjalan seperti biasa, tak peduli siapa yang berkuasa.

Namun, seiring waktu, aku mulai menyadari bahwa apatisme ini hanya memperkuat posisi mereka—para elit yang pintar memanfaatkan ketidakpedulian masyarakat sebagai bahan bakar demi keuntungan pribadi.

Sejak Pilpres terakhir, aku mulai lebih rajin mengikuti berita politik, membaca, dan mendengarkan podcast. Meskipun terkadang terasa membosankan, tetap kulanjutkan. Ternyata, ada banyak hal yang sebelumnya tidak kuketahui. Lambat laun, aku mulai memiliki sikap sendiri terhadap berbagai isu politik. Dengan terus belajar dan membangun pemahaman, aku percaya kita bisa menjadi lebih bijak dalam menilai dan menentukan pilihan. Bukan lagi soal siapa yang kita dukung, tetapi lebih kepada apa yang kita perjuangkan. Dan yang terpenting, menjaga agar sikap kita tidak terperosok ke dalam arus politik yang hanya mementingkan kepentingan segelintir elit. Aku hanya berharap agar kita lebih fokus pada gagasan dan tujuan daripada hanya terpaku pada figur, karena banyak tokoh politik yang justru mengecewakan.

Berbicara tentang politik Indonesia memang cenderung membuat geleng geleng kepala. Baru-baru ini, situasi politik semakin memanas dengan akan disahkannya RUU Pilkada yang berpotensi menganulir Putusan MK terkait batas usia dan threshold. (Walau sebelumnya MK juga datang dengan putusan yang aneh bin ajaib menjelang Pilpres). Banyak yang merasa hal tersebut mencurigakan, seolah-olah ada agenda tertentu di baliknya. Pengesahan ini menjadi bahan perbincangan hangat, terutama di kalangan masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya keterlibatan dalam proses politik.  Integritas institusi-institusi yang seharusnya menjaga netralitas dan keadilan dalam proses demokrasi kita terus dipertanyakan. Syukurnya masih banyak teman-teman yang turun ke jalan. 

Hari ini saat tulisan ini selesai ditulis, pengesahan RUU masih ditunda karena tidak mencapai kuorum, tapi jangan lengah.  Bisa jadi tengah malam nanti, atau besok pagi, pun esok lusa pengesahan sudah dilakukan tanpa kita sadari. Biasa juga begitu. Ini hanya opini dangkalku, tanpa bermaksud menyinggung siapapun (Kalaupun tersinggung juga tidak masalah) Hanya saja, aku merasa lelah melihat berita yang semakin tidak menentu—berpolemik soal hal-hal remeh saat keadaan negara kita jauh dari baik. Padahal, kita baru saja merayakan kemerdekaan, yang jika ditelaah lebih jauh, makna 'merdeka' itu sendiri patut dipertanyakan. Rasanya sudah tidak kuat melihat berbagai kebijakan yang semakin menekan rakyat. Ya Allah, lindungilah negeri ini, kembalikanlah keadilan bagi rakyat Indonesia, dan jauhkanlah kami dari pemimpin dan kroni-kroninya yang zalim dan tebal muka.

Komentar

Postingan Populer